Konjungsi berikutnya
Pilih malam
Malam pengamatan · 14 lunasi ke depan
Setiap kartu menandai petang pertama yang mungkin setelah satu ijtima' — malam ketika hilal awal bulan Hijriah biasanya dicari. Pilih malam lain lewat tanggal manual bila perlu memeriksa malam istikmal (H+1) atau malam sembarang.
Peta dunia
Zona kemungkinan hilal —
Setiap ubin mewakili ketinggian & elongasi hilal saat ghurub pada titik itu. Klik atau ketuk peta — atau pilih kota di panel bawah — untuk sirkumstansi lengkap titik tersebut.
Sirkumstansi lokal
Detail satu titik
Kustomisasi
Pengaturan lokasi
ubah kota atau koordinat
Kriteria
Tiga cara membaca langit yang sama
Ketiganya memakai posisi Matahari dan Bulan yang persis sama — bedanya hanya di mana garis batas "terlihat" digambar.
MABIMS (Neo-MABIMS 2021)
Hilal dianggap berpeluang dirukyat bila saat ghurub tinggi toposentris Bulan ≥ 3° dan elongasi geosentris ≥ 6,4°, dengan syarat ijtima' sudah terjadi sebelum ghurub.
Kriteria ini disepakati forum MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura) tahun 2021 untuk menggantikan kriteria Wujudul Hilal 2°/3°/8jam yang dianggap terlalu longgar. Hasil hisabnya tetap dikonfirmasi lewat sidang isbat berdasar laporan rukyat.
Wujudul Hilal
Syaratnya lebih sederhana: ijtima' terjadi sebelum ghurub dan Bulan sudah di atas ufuk (tinggi > 0°) saat ghurub — berapa pun kecilnya sudut itu.
Karena murni hisab tanpa syarat rukyat, tanggalnya bisa ditetapkan jauh-jauh hari tanpa menunggu laporan pengamatan. Ini sebabnya Muhammadiyah kadang menetapkan awal bulan sehari lebih awal dibanding hasil sidang isbat pemerintah.
Odeh (2004)
Kriteria astronomis oleh Mohammad Odeh (ICOP), memakai parameter V = ARCV − q(W)
yang menggabungkan busur penglihatan (ARCV) dan lebar sabit (W) hasil kalibrasi terhadap
ribuan laporan rukyat historis.
Hasilnya dibagi empat zona: A mudah dilihat mata telanjang, B perlu alat optik namun mata telanjang mungkin, C hanya dengan alat optik, D tidak mungkin terlihat sama sekali.
Catatan penting: hisab pada ketiga kriteria di atas hanya memperkirakan kemungkinan. Keputusan akhir tanggal 1 Hijriah — terutama untuk ibadah seperti puasa Ramadhan dan Idulfitri — mengikuti pengumuman resmi organisasi atau otoritas setempat (mis. sidang isbat Kementerian Agama RI), bukan angka di halaman ini.
Fikih
Rukyat & hisab · dasar dan ragam praktiknya
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ
"Berpuasalah karena melihatnya (hilal), dan berbukalah (ber-Idulfitri) karena melihatnya. Jika mendung menutupinya dari kalian, maka genapkanlah bilangan Sya'ban menjadi tiga puluh hari." HR al-Bukhari & Muslim · dari Ibnu 'Umar ra.
Hadits ini menjadi akar dua pendekatan yang tumbuh belakangan: sebagian ulama membaca "ru'yah" (melihat) secara harfiah — pengamatan mata langsung atau yang mewakilinya (rukyat bil fi'li); sebagian lain memandang hisab yang meyakinkan sebagai bentuk sah dari "mengetahui" posisi hilal, sehingga mencukupkan diri dengan perhitungan.
- Muhammadiyah — hisab wujudul hilal, tanpa syarat imkan rukyat maupun konfirmasi pengamatan lapangan; kalender bisa disusun bertahun-tahun ke depan.
- Kementerian Agama RI & NU — hisab sebagai alat bantu, keputusan akhir lewat sidang isbat yang mempertimbangkan kriteria imkan rukyat MABIMS dan laporan rukyat bil fi'li dari titik-titik pemantauan resmi.
- Persis — menekankan rukyat, dengan hisab sebagai alat bantu prediksi dan verifikasi, bukan penentu tunggal.
Karena kriterianya berbeda, tanggal 1 Ramadhan atau 1 Syawal versi Muhammadiyah dan versi pemerintah sesekali berselisih satu hari — bukan karena posisi Bulan yang diperdebatkan (itu bisa dihitung presisi tinggi dan disepakati semua pihak), melainkan karena letak garis batas "cukup terlihat" yang mereka pakai berbeda.
Uraian di atas adalah pemetaan praktik, bukan fatwa. Untuk pengamalan ibadah, ikuti ketetapan organisasi atau jam'iyyah masing-masing, dan untuk pelaksanaan berjamaah ikuti pengumuman otoritas setempat — misalnya hasil sidang isbat Kementerian Agama RI.
Referensi
Kamus Hilal · istilah pada halaman ini
Dihitung dengan astronomical engine Quantum Albab — VSOP87D (Matahari) + ELP‑2000 (Bulan), dilanjutkan ke pencarian ijtima', ghurub, dan sirkumstansi hilal toposentris dengan koreksi nutasi, paralaks, dan refraksi atmosfer. Peta dunia memakai proyeksi sudut waktu (ghurub lokal per bujur) beresolusi ±3°, sehingga titik hasil klik dihitung ulang secara presisi penuh untuk koordinat persisnya — bukan dibaca dari sel peta terdekat. Elevasi peta diasumsikan 0 m (aras laut); gunakan koordinat manual untuk memasukkan elevasi titik pengamatan sesungguhnya. Perhitungan ini tidak memperhitungkan tutupan awan, polusi cahaya, kejernihan atmosfer, maupun ketajaman mata pengamat — semua faktor yang pada akhirnya menentukan rukyat bil fi'li yang sesungguhnya.